Tag: anak

  • Waspadai Hipertensi pada Anak lalu Kaum Muda, Hal ini Cara Mencegahnya

    Waspadai Hipertensi pada Anak lalu Kaum Muda, Hal ini Cara Mencegahnya

    Ledisia.com – JAKARTA – Hipertensi tak belaka dialami oleh orang dewasa ataupun lansia. Tidak jarang, di praktik dokter sehari-hari, hipertensi juga ditemui pada pasien anak-anak, remaja, usia produktif, hingga ibu hamil.

    Menurut dr. BRM. Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K), FIHA, Sekjen Indonesian Society of Hypertension (InaSH), peningkatan bilangan kejadian hipertensi pada anak serta remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain peningkatan kejadian obesitas, anak kurang beraktivitas, terlalu banyak bermain gadget, juga asupan makanan yang tinggi kalori dan juga tinggi garam.

    “Bagi remaja, konsumsi minuman yang tersebut mengandung alkohol serta kafein, kebiasaan merokok, stres mental, serta kurang tidur juga memicu hipertensi. Jika telah terkena hipertensi ketika usia muda, maka sampai dewasa mereka akan menjalani hidup dengan penyembuhan hipertensi, juga memperbesar risiko penyakit kardiovaskular pada masa dewasa,” jelas dr. Ario pada konferensi pers ‘The 19th Scientific Meeting InaSH 2025 pada Jakarta, hari terakhir pekan (21/2/2025).

    Dokter Ario menambahkan, batasan tekanan darah normal pada anak berbeda-beda untuk setiap kelompok umur, jenis kelamin, juga tinggi badan. Hal ini berbeda dengan dewasa yang dimaksud menggunakan satu batasan tekanan darah normal untuk semua umur, jenis kelamin, dan juga ukuran tubuh.

    “Idealnya, mulai dari usia 3 tahun, anak mampu mulai menjalani pemeriksaan tekanan darah, setidaknya setahun sekali, seperti halnya pengukuran berat juga tinggi badan yang dimaksud perlu dijalankan pada setiap anak secara regular. Pada anak-anak dengan riwayat lahir prematur, berat lahir kurang dari 2.500 gram, atau riwayat dirawat di dalam ruang perawatan intensif/ICU, memerlukan pemeriksaan tekanan darah lebih lanjut dini lagi,” paparnya.

    Sementara hipertensi pada usia muda atau usia produktif mempengaruhi 1 dari 8 orang dewasa berusia antara 20 juga 40 tahun. Survei Kesejahteraan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tensimeter sebesar 10,7% pada kelompok usia 18–24 tahun kemudian 17,4% pada kelompok 25–34 tahun. Namun, data SKI 2023 juga menuliskan bahwa berdasarkan diagnosis dokter, kelompok umur 18-24 prevalensi hipertensinya sebesar 0,4% lalu kelompok umur 25-34 sebesar 1,8%.

    “Hipertensi pada usia muda perlu menjadi perhatian khusus, oleh sebab itu hipertensi tidak ada bisa saja disembuhkan total, tetapi semata-mata dapat dikontrol. Jika sudah ada menderita hipertensi pada usia muda, maka akan terjadi penurunan kualitas hidup pada waktu dewasa hingga lansia. Namun, apabila memang benar sudah ada terjadi, maka kejadiannya sanggup diselesaikan dengan masih menerapkan gaya hidup sehat, mengonsumsi obat-obatan secara patuh, kemudian melakukan pemantauan rutin,” terang dr. Ario.

    Sementara itu, hipertensi pada masa kehamilan tiada hanya saja meningkatkan risiko morbiditas kemudian mortalitas bagi ibu, tapi juga menyebabkan komplikasi penting seperti preeklamsia, eklamsia, gangguan peningkatan janin, bahkan kematian ibu maupun janin. Dalam beberapa kasus, hipertensi pada kehamilan juga dapat menyebabkan kelahiran prematur lalu berat badan lahir rendah. Oleh sebab itu, pencegahan primordial terhadap hipertensi secara dini perlu dijalankan pada upaya mengendalikan dan juga menurunkan nomor hipertensi dalam Indonesia.

    Waspadai Hipertensi pada Anak lalu Kaum Muda, Hal ini Cara Mencegahnya

    “Pengendalian tekanan sangat penting untuk menghindari komplikasi hipertensi seperti stroke, penyakit jantung koroner, gagal jantung, gagal ginjal, kebutaan, serta kepikunan,” kata dr. Eka Harmeiwaty, Sp.N, Ketua InaSH pada kesempatan yang dimaksud sama.

    Menurut RISKESDAS 2018, hanya saja 1 di area antara 3 pasien hipertensi yang tersebut mencapai target pengobatan. Angka ini tiada berjauhan berbeda dengan hasil survei MMM yang digunakan dijalankan oleh PERHI, di dalam mana ditemukan target perawatan hipertensi tercapai belaka 38,2%. “Untuk mencapai target pengendalian hipeternsi 50% maka 24,3 jt lebih lanjut penduduk dengan hipertensi harus mendapatkan perawatan yang digunakan efektif,” ujar dr. Eka.

    WHO sendiri, lanjut dr. Eka, memperkirakan bahwa pada 2023 ada 1,28 miliar penduduk dunia berusia 30-79 tahun mengalami hipertensi lalu hampir 2/3-nya hidup di tempat negara berkembang, termasuk di tempat Indonesia. Kurang dari separuhnya (42%) terdiagnosis kemudian mendapatkan pengobatan, namun cuma 21% yang mana mencapai target pengobatan. Hasil SKI Kementerian Bidang Kesehatan menunjukkan prevalensi hipertensi pada Indonesia turun menjadi 30,8% dibandingkan hasil RISKESDAS 2018 (34,1%).

  • Menjawab Pertanyaan Pemeriksaan Pra Konsepsi Kesuburan

    Menjawab Pertanyaan Pemeriksaan Pra Konsepsi Kesuburan

    Ledisia.com – Halo, Ledisian! Sebelumnya, kita telah membahas bagaimana pentingnya pemeriksaan pra konsepsi untuk kesuburan. Dari artikel tersebut, Anda telah mendapatkan gambaran tiga manfaat yang akan diperoleh jika melakukan pemeriksaan sebelum berencana untuk hamil. Manfaat utamanya ialah agar rahim siap huni bagi si calon bayi, memberikan petunjuk bagi dokter dan Anda bersama suami untuk langkah perencanaan kehamilan selanjutnya, serta menyiapkan kondisi psikis Anda agar tidak mudah stres saat menjalani program hamil kali ini.

    Pada artikel tersebut juga disebutkan bahwa dokter akan memberikan sejumlah pertanyaan. Misalnya berupa formulir isian mengenai riwayat ginekologis, riwayat medis, riwayat obstetrik, dan lain-lainnya. Daftar pertanyaan panjang inilah yang akan memberikan pemahaman kepada dokter mengenai kondisi rahim Anda apakah telah siap huni atau tidak.

    Dengan Panduan Ini, Pemeriksaan Pra Konsepsi Tidak Akan Sulit dan Lupa Lagi

    Lalu, pertanyaan apa sajakah yang akan disampaikan oleh dokter pada pemeriksaan pra konsepsi tersebut? Nah, berikut ini Ledisia.com paparkan sejumlah contoh pertanyaan yang bisa menjadi gambaran bagi Anda dan juga pasangan!

    1. Bagi wanita, usia bukan hanya pelengkap biodata melainkan tolak ukur tingkat kesuburan mereka

    Semakin tua usia, kesuburan juga berkurang - via zwierciadlo.pl
    Semakin tua usia, kesuburan juga berkurang – via wierciadlo.pl

    Pertanyaan yang tentu dilontarkan pada Anda adalah:

    “Berapa usia Anda dan berapa usia suami Anda?”

    Pertanyaan terkait usia ini bukanlah untuk kebutuhan biodata semata. Usia perlu diketahui dokter untuk mengetahui apakah Anda dan pasangan masih termasuk dalam usia-usia subur untuk memiliki anak. Jika saja usia Anda sudah mencapai 35 tahun ke atas, peluang kesuburan tentu saja akan semakin kecil.

     

    2. Dalam riwayat ginekologis, dokter akan bertanya tentang organ reproduksi Anda. Jika merasa ada yang masih perlu di sampaikan, jangan ragu-ragu katakan saja!

    Kapan pertama kali menstruasi? - via canadianpharmacymeds.com

    Kapan pertama kali menstruasi? – via canadianpharmacymeds.com

    • Pada usia berapakah pertama kali Anda mengalami menstruasi? Apakah siklus menstruasi Anda selalu rutin dan berapa lama siklus itu berlangsung? Dan, kapan terakhir kali mengalami menstruasi?
    • Apakah sempat atau sedang menggunakan kontrasepsi?
    • Apakah pernah memiliki atau didiagnosis mempunyai pap smear yang abnormal? Artinya, apakah Anda bermasalah pada leher rahim atau memiliki kanker serviks?
    • Apakah suami pernah teranalisis memiliki infeksi seksual menular, seperti herpes, sipilis, dan lain-lain?
    • Punya pengalaman dengan penyakit radang panggul? Atau mungkin, dokter mengatakan bahwa Anda memiliki kelainan rahim setelah pemeriksaan tertentu?
    • Pernah mengikuti tes HIV? Lalu, bagaimana hasilnya?
    • Apakah Anda dan suami berhubungan secara monogami? Atau malah poligami?
    • Ketika ibu mengandung Anda, apa saja obat yang dikonsumsinya? Adakah obat yang beresiko membawa kecacatan?
    • Apakah Anda pernah mengalami operasi ginekologis atau yang berdampak pada organ reproduksi?
    • Pernah melakukan perawatan kesuburankah sebelumnya?
    • Adakah problem ginekologis atau masalah pada organ reproduksi yang belum dinyatakan pada pertanyaan-pertanyaan sebelumnya? Katakan saja!

     

    3. Jika sebelumnya pernah mengalami kehamilan, riwayat obstetrik akan menilik permasalahan yang Anda alami di kehamilan terakhir

    Sakit di kehamilan sebelumnya - via promum.ru
    Sakit di kehamilan sebelumnya – via promum.ru

    Pada bagian ini, dokter akan mengetahui lebih lanjut riwayat kehamilan Anda. Jika ini bukan pertama kalinya Anda mengandung, maka pertanyaan-pertanyaan berikutlah yang perlu dijawab!

    • Pernahkah Anda hamil sebelumnya?
    • Jika memang pernah hamil, pernahkah Anda mengalami keguguran? Berapa lama usia kehamilan hingga pada akhirnya keguguran? Lalu, apa penyebab keguguran? Karena komplikasi atau ada alasan lain?
    • Pernahkah mengaborsi kandungan? Pada usia kehamilan berapa bulankah dan apa yang jadi alasannya?
    • Punya sejarah kehamilan di luar rahim? Jika iya, berapa minggu usia kehamilan Anda waktu itu? Apakah dilakukan operasi karenanya?
    • Ketika Anda melahirkan sebelumnya, kapan dan di mana anak itu dilahirkan? Apa jenis kelaminnya, berapa berat badannya, dan usia kehamilan? Kemudian, persalinannya normal atau caesar?
    • Pernahkah mengalami komplikasi penyakit semasa kehamilan? Misalnya seperti diabetes, persalinan prematur, masalah plasenta, dan lain sebagainya?
    • Adakah Anda mengalami depresi pada kehamilan sebelumnya?
    • Apakah ada komplikasi yang terjadi setelah Anda melahirkan?

     

    4. Riwayat medis akan mencatat macam-macam penyakit serius yang Anda alami. Jika pernah mengalaminya, bukan berarti tidak ada dampaknya pada kehamilan nantinya

    Pernah opname? - via wisegeek.com
    Pernah opname? – via wisegeek.com
    • Apakah Anda pernah mengalami penyakit medis yang cukup serius? Atau pernah mengalami satu atau beberapa deretan penyakit ini: diabetes, hipertensi, epilepsi, kejang-kejang, hepatitis, liver, jantung, pembekuan darah, penyakit paru-paru, asma, tiroid, kanker, lupus, atau radang sendi? Lalu, pernah dirawat di rumah sakit karenanya?
    • Punya masalah pencernaan?
    • Jika pernah, kapan dan mengapa Anda melakukan operasi? Adakah permasalahan yang berkaitan dengan anestesi?
    • Pernah transfusi darah?
    • Apakah sekarang sedang mengalami perawatan karena kondisi tertentu?
    • Apakah belakangan ini Anda terjangkit penyakit menular? Adakah orang di sekitar lingkungan Anda yang memiliki penyakit TBC atau hepatitis?
    • Apakah ada salah satu atau lebih dari anggota keluarga yang menderita diabetes, hipertensi, stroke, epilepsi/kejang, penyakit ginjal, hepatitis, liver, gangguan jantung, masalah pembekuan darah, penyakit paru-paru, asma, tiroid, lupus, atau radang sendi?

     

    5. Kalau sedang mengkonsumsi obat tertentu, bawa saja kemasannya saat pemeriksaan nanti. Kemasan tersebut bisa membantu Anda melewati pertanyaan tentang obat-obatan dan alergi.

    Bawa serta obatnya - via liveinternet.ru
    Bawa serta obatnya – via liveinternet.ru
    • Apakah Anda sedang mengkonsumsi obat resep atau obat yang dijual di pasar bebas? Berapa dosisnya?
    • Obat apa yang Anda minum? Vitamin, obat herbal, atau sekedar suplemen? Ada baiknya jika Anda mencatatnya dengan rapi sebelum berangkat menemui dokter. Jika tak ingin kesulitan, kemasan obat itu pun boleh dibawa serta.
    • Apakah Anda mengkonsumsi asam folat harian sebesar 400 mikrogram per harinya? Asam folat itu lalu dikonsumsi sendiri atau bersamaan dengan multivitamin lain?
    • Punya alergi pada obat atau karet? Atau adakah alergi lainnya seperti alergi makanan, udara, dan lain-lain? Sampaikan saja pada dokter!

     

    6. Pertanyaan tentang riwayat vaksinasi pun akan lebih terbantu lagi jika Anda membawa catatan vaksinasi sedari kecil. Jika tidak, bertanya pada ibu paling tidak bisa membantu sedikit demi sedikit

    Riwayat vaksinasi semasa kecil jangan dilupakan - via opposingviews.com
    Riwayat vaksinasi semasa kecil jangan dilupakan – via opposingviews.com

    Jika Anda masih memiliki catatan lengkap mengenai vaksin yang diterima sejak kecil, maka bawalah itu saat kunjungan ke dokter. Jika tidak, coba tanyakan pada orang tua khususnya ibu tentang riwayat vaksinasi apa saja yang pernah ditujukan pada Anda. Jika catatan masih lengkap atau masih ingat, pertanyaan-pertanyaan berikut ini mungkin lebih mudah dijawab.

    • Pernahkah Ledis mendapat cacar air? Atau malah pernah vaksin cacar air sebelumnya?
    • Semasa kecil, apakah Anda mendapatkan vaksin komplit meliputi rubela, gondok, dan campak? Pernah diperiksa untuk uji ketahanan terhadap virus rubela? Pernahkah juga divaksin untuk hepatitis B atau untuk virus human papilloma?
    • Kapan terakhir kali mendapat vaksin tetanus?
    • Belakangan ini, apakah Anda terkena penyakit flu?
    • Adakah rencana berwisata ke negara lain yang tengah Anda dan suami rencanakan dan membutuhkan vaksin tertentu?

    7. Sejarah sosial dan emosi juga penting diketahui lewat pertanyaan-pertanyaan ini sehingga stres dapat dihindari sejak dini

    Jangan malu mengaku kalau mendapat kekerasan dari suami - via zirkinandschmerlinglaw.com
    Jangan malu mengaku kalau mendapat kekerasan dari suami – via zirkinandschmerlinglaw.com
    • Pernahkah Anda dipaksa melakukan hubungan seksual di luar kemauan?
    • Apa pernah Anda menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga? Pada hubungan rumah tangga yang sekarang ini, apakah Anda mengalami kekerasan baik dalam bentuk fisik maupun verbal? Pernah ditendang, dipukul, atau didorong?
    • Pernahkah Anda menderita gangguan mental atau emosi? Apakah depresi dan gangguan makan pernah mendatangi Anda?

     

    8. Gaya hidup dan kebiasaan Anda turut berpengaruh. Barangkali ada gaya hidup negatif yang luput, pertanyaan ini dapat membantu

    Hindari kebiasaan minum-minum - via guim.co.uk
    Hindari kebiasaan minum-minum – via guim.co.uk
    • Apakah benar Anda senang merokok? Atau, menjadi perokok pasif mungkin?
    • Anda suka minum alkoholkah? Kalau memang benar jawabannya, seberapa banyak takarannya dan seberapa sering waktunya?
    • Pernahkah mengkonsumsi narkoba? Apakah sekarang masih?
    • Berapa kali dalam sehari Anda minum kopi atau apapun yang berkafein? Berapa kali dan berapa banyak jumlahnya?
    • Apakah mengunjungi dokter gigi jadi rutinitas?
    • Benarkah olahraga menjadi kebiasaan rutin?
    • Punya masalah dengan berat badan? Jika iya, pernahkah melakukan diet atau pantangan makanan tertentu?
    • Jika Anda gemar menyantap ikan, ikan seperti apa yang Anda sukai? Kapan terakhir memakannya dan berapa banyak?
    • Apakah pernah memakan daging mentah atau daging yang dimasak dengan tingkat kematangan kurang? Daging sapi, ikan, telur, ayam, atau hewan ternak lainnya kah itu?
    • Anda senang memelihara hewan? Atau terbiasa mengisi waktu luang dengan berkebun?
    • Apakah mandi di bak panas atau sauna sudah jadi kebiasaan Anda?
    • Bagaimana situasi dan lingkungan tempat Anda tinggal dan bekerja? Apakah tempat-tempat itu merupakan area yang sering bersentuhan dengan zat kimia berbahaya seperti cat, deterjen, pestisida, merkuri, atau racun-racun lainnya?

     

    9. Pemeriksaan genetik akan menjelaskan potensi penyakit turunan. Sehingga Anda perlu memahami sejarah keluarga Anda dan suami

    Ketahui sejarah keluarga besar - via pinimg.com
    Ketahui sejarah keluarga besar – via pinimg.com

    Pada pemeriksaan genetik, dokter akan mengetahui sejarah keluarga Anda dan keluarga suami terutama di bagian penyakit turunan/warisan. Wajar saja jika dokter menanyakan tentang riwayat kesehatan keluarga Anda seperti berikut:

    • Apakah ada anggota keluarga (dalam konteks ini adalah keluarga Anda, keluarga suami, serta jika ada, anak Anda dari kehamilan sebelumnya) yang lahir dalam kondisi cacat? Misalnya pada bagian ginjal, tabung syaraf, atau jantung?
    • Adakah anggota keluarga yang mengalami down syndrome atau kelainan kromosom?
    • Bagaimana dengan kecacatan intelektual? Adakah yang mengalami autisme dan gangguan semacam itu?
    • Ada yang pernah keguguran atau melahirkan bayi sudah dalam keadaan mati?
    • Apakah penyakit anemia atau talasemia menjadi warisan dalam keluarga?
    • Bagaimana dengan hemofilia, gangguan perdarahan, gangguan otot, gangguan tulang belakang? Ada penyakit turunan yang belum tercakup dalam pertanyaan-pertanyaan di atas? Sampaikanlah!

     

    Dari daftar panjang pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas menjadikan perencanaan kehamilan tidak boleh dianggap remeh lagi. Pertanyaan ini bahkan bisa menjadi bayangan kalau saja ada faktor yang terlewatkan yang menjadi penyebab program hamil menjadi gagal.

    Tunggu apalagi? Segeralah datangi dokter dan lakukan pemeriksaan pra konsepsi. Tim Ledisia mendoakan semoga hasilnya positif sehingga Anda dan suami bisa segera merencanakan dan mendapatkan momongan. Tetap semangat dan hindari stres ya!

  • 4 Rencana Keuangan yang Wajib Dilakukan Sebelum hamil

    4 Rencana Keuangan yang Wajib Dilakukan Sebelum hamil

    Ledisia.com – Belakangan ini, banyak sekali pasangan muda-mudi yang telah menikah dan ingin segera memiliki momongan. Mereka sama sekali tidak berpikir untuk menunda kehamilan. Tapi begitu membayangkan masalah finansial, keraguan pun tiba-tiba datang. Ada pula yang malah mundur teratur dan berfokus untuk mengumpulkan biaya lebih dahulu.

    Mereka yang ragu dan memilih menunda momongan biasanya telah sadar bahwa harus ada persiapan khusus sebelum memiliki anak. Apalagi biaya kebutuhan hidup di jaman sekarang semakin tinggi. Nanti bila kehamilan telah datang, maka  anda sudah harus memikirkan biaya perawatan kehamilan, persalinan, pra persalinan, hingga biaya-biaya untuk si anak sampai bisa mandiri.

    Tanpa Perlu Menunda Momongan, Rencana Keuangan Ini Dapat Menjauhkan Anda Dari Kesulitan Finansial Setelah Bayi Lahir

    Sebenarnya Anda dan suami tak usah ragu merencanakan kehamilan, apalagi sampai-sampai punya rencana menunda punya momongan hanya karena masalah finansial. Jika saja empat rencana keuangan ini segera dijalankan setelah menikah, maka kesulitan finansial setelah kehamilan dan setelah sang buah hati lahir ke dunia pun tak perlu terjadi.

     

    1. Masa sebelum dan setelah menikah pasti berbeda. Mengurangi kebiasaan konsumtif di luar rumah bisa membuat tanjakan pengeluaran tidak terlalu tinggi

    Tak perlu belanja sampai kalap begini - via retaillightinganddesign.com
    Tak perlu belanja sampai kalap begini – via retaillightinganddesign.com

    Pengeluaran seseorang yang telah menikah dan belum menikah bisa dipastikan akan berbeda. Sebelum menikah, akan ada banyak sekali pengeluaran untuk bersenang-senang atau sekedar memenuhi gaya hidup. Untuk makan, misalnya. Saat Anda masih lajang, akan sangat mudah tergoda untuk sering makan di mall dan mencoba makanan-makanan yang tengah tren di masyarakat modern.

    Semenjak menikah, jangan lakukan hal semacam ini sering-sering. Sebenarnya Anda bisa saja makan di tempat yang lebih sederhana. Bahkan memasak sendiri pun selain sehat, juga memberikan efek rekreatif yang menyenangkan hati.

    Berbelanja pakaian dan gadget pun begitu. Bukan berarti Anda dan suami dilarang untuk membeli barang-barang dambaan anda tersebut. Namun jika tidak terlalu penting, apa iya harus sekali dibeli? Atau jika penting sekali, mencoba mendapatkan harga terjangkau atau alternatif lainnya pun bisa membuat Anda menyimpan sisa uang untuk ditabung.

    Intinya, dalam berumah tangga tidak terlalu penting untuk mengedepankan gaya hidup. Memilih merek bagus dengan harga mahal mungkin perlu menurut Anda. Tapi melupakan prioritas masa depan anak dan keluarga pun jangan pernah diabaikan.

     

    2. Selain menghentikan kebiasaan konsumtif, mempersiapkan pos-pos pengeluaran yang diperlukan di masa depan juga penting. Besar pasak daripada tiang bisa dihindari dengan cara ini

    Merencanakan deposito untuk kebutuhan khusus bisa dicoba - via lovecen.com
    Merencanakan deposito untuk kebutuhan khusus bisa dicoba – via lovecen.com

    Jika sebelumnya Anda dan suami sudah punya persediaan anggaran, lebih baik mulailah untuk mengevaluasi anggaran tersebut mulai sekarang. Bisa jadi, ada yang perlu dirombak dan dikoreksi apalagi setelah hadirnya sang buah hati. Anda harus tahu pasti dari mana saja sumber pendapatan diraih dan untuk apa saja pendapatan itu nanti dimanfaatkan. Pemanfaatan dana ini pun sebaiknya dibuat dalam pos-pos tertentu. Setiap posnya, Anda bisa menentukan nominal anggaran yang wajar. Diharapkan, nantinya tidak akan ada pengeluaran lebih daripada anggaran tersebut.

    Mana yang akan menjadi pos dana darurat, mana yang untuk asuransi kesehatan, kebutuhan sehari-hari, hiburan atau piknik, dan lain sebagainya. Mungkin juga Anda memiliki keinginan terpendam untuk memulai usaha. Tentu saja pos untuk mengumpulkan modal juga dibutuhkan. Pastikan setiap pendapatan yang Anda terima dari gaji bulanan maupun di luar gaji bulanan dapat disisihkan ke pos-pos tersebut dan tidak hanya habis untuk keperluan yang tidak terlalu penting.

     

    3. Jika Anda memilih berhenti bekerja, mulailah berlatih membiasakan diri hidup dari satu pendapatan sejak dini

    Bekerja sambil mengasuh anak di rumah - via lepotaizdravlje.rs
    Bekerja sambil mengasuh anak di rumah – via lepotaizdravlje.rs

    Setelah melahirkan nanti, pilihan untuk tetap bekerja atau tidak kembali pada pribadi Anda masing-masing. Beberapa wanita ada yang memilih untuk berhenti dari pekerjaannya dan fokus untuk mengurus bayi. Baginya, setiap perkembangan anak tidak boleh dilewatkan sedikit pun. Menggunakan jasa babysitter atau pembantu pun tidak selalu jadi pilihan yang baik. Menitipkan bayi yang masih kecil dibutuhkan kepercayaan yang sangat tinggi. Jika babysitter atau pembantu yang dipilih tak berdedikasi, bukan tidak mungkin si kecil atau Anda yang dirugikan.

    Namun ada pula yang memilih tetap bekerja seperti biasa. Setelah melahirkan, wanita mengambil cuti sekitar 1-3 bulan. Usai masa cuti, mereka bekerja lagi dan sang buah hati akan dititipkan pada babysitter/pembantu terpercaya atau ke orang tua. Sangat jarang sekali wanita membawa serta buah hatinya ke kantor dan mengasuhnya sambil bekerja.

    Kemungkinan akan ada masalah finansial yang dirasakan jika wanita memilih untuk tidak bekerja lagi, khususnya pekerja kantoran. Ada beberapa pilihan untuk Anda yang ingin bekerja namun dapat tetap mengasuh anak. Misalnya, wirausaha dari rumah atau freelance. Beberapa ibu rumah tangga ditengarai mampu membangun bisnis online yang sukses, sekaligus mengasuh dan mendidik anak dengan baik.

    Tapi jika Anda ingin tetap menjadi ibu rumah tangga saja, Anda harus mampu mengatur keuangan keluarga secara efisien. Ya, wanita sebagai ibu rumah tangga harus bisa mengatur finansial karena merekalah ujung tombak operasional keluarga. Ia yang akan membelanjakan pendapatan untuk kebutuhan keluarga dan memastikan seluruh kebutuhan penting terpenuhi.

    Bila sang buah hati sudah besar dan siap dilepaskan, terkadang keinginan untuk berkarir mulai muncul lagi. Inilah yang perlu dipertimbangkan. Sebab ada beberapa perusahaan yang sulit menerima wanita yang telah menikah dan memiliki anak. Sedangkan itu, CV Anda pun sempat kosong selama beberapa waktu.

    Apapun itu pilihannya, pastikan buah hati Anda tetap diasuh dengan baik dan cukup mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. Plus, jangan sampai terlalu merepotkan orang lain dan keuangan tetap aman terjaga!

     

    4. Pikirkan biaya pendidikan anak hingga mencapai kuliah. Bukannya jadi beban, tapi ini adalah motivasi agar Anda senantiasa mengupayakan pendidikan terbaik bagi sang buah hati

    Yang terbaik untuk buah hati - via saleswithnathan.com
    Yang terbaik untuk buah hati – via saleswithnathan.com

    Seakan tak akan ada habisnya pos-pos pengeluaran keluarga baru Anda nanti, masih ada lagi biaya pendidikan yang harus Anda dan suami pikirkan dari sekarang. Mungkin saat ini Anda belum mengandung dan melahirkan anak. Tapi bukan berarti Anda bisa bersantai-santai. Percayalah jika si buah hati sudah lahir, waktu akan terasa begitu cepat. Sang anak akan memasuki masa-masa playground, TK, SD, SMP, SMA, dan jenjang kuliah. Masa-masa ini tidak terasa datangnya, sama seperti Anda yang baru kemarin bersekolah dan kini telah menikah.

    Tentunya Anda dan suami setuju bukan jika akan selalu mengupayakan pendidikan tertinggi untuk sang buah nanti? Siapa yang tak senag jika buah hati mereka memiliki masa depan cerah? Karena biaya pendidikan akan semakin tinggi, jangan lantas menjadikannya beban. Sebaliknya buatlah ini sebagai cambukan agar Anda dan suami rajin mengumpulkan dan mengelola uang untuk prioritas sang buah hati.

     

    Memiliki anak memang tidak bisa tanpa biaya sama sekali. Namun alangkah baiknya, hal ini tidak membuat Anda dan suami ketakutan menghadapi masa depan berkeluarga. Bila perencanaan keuangan telah matang karena kerap dilatih dan dipraktekkan sejak dini, yakinlah upaya Anda tak akan sia-sia. Senyum manis pasti terkembang melihat sang buah hati nanti tumbuh baik dalam lindungan orang tua yang sangat mencintainya! Semoga bermanfaat!

  • 3 Tips Memantapkan Perencanaan kehamilan Anda

    3 Tips Memantapkan Perencanaan kehamilan Anda

    Kehamilan perlu direncanakan dengan mantap agar tidak kewalahan nantinya
    Kehamilan perlu direncanakan dengan mantap agar tidak kewalahan nantinya via http://pinimg.com/

    Ledisia.com – Memiliki momongan memang sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi yang mendambakannya. Memiliki momongan yang sehat dan lucu pun dapat menjadi kebanggaan bagi keluarga besar Anda. Tapi, perlu Anda cermati bahwa menimang momongan dan menjadi orang tua tidaklah mudah.

    Sebutlah saja seperti kapan harus menghentikan kontrol kelahiran (untuk yang sempat menunda kehamilan dan sudah pernah memiliki anak), berapa banyak waktu yang diperlukan untuk mengambil cuti, dan mencari tahu apakah Anda masih mampu memiliki anak. Itupun hanya sedikit persiapan dari masih banyaknya lagi yang harus Anda pikirkan.

    Lahirnya anak baru juga menuntut Anda berpikir tentang bagaimana gaya hidup Anda, keuangan, pekerjaan, hubungan, hingga nasib anak-anak yang lain. Tak terbayangkan bagaimana repotnya Anda nanti karena harus bertanggung jawab atas kewajiban yang lebih.

    Setiap orang boleh saja mengatakan kapan memiliki momongan yang tepat, berapa banyak jumlah anggota keluarga atau anak yang terbilang sempurna. Semua ada saja positif dan negatifnya dan sah-sah saja. Namun untuk keputusan apakah Anda akan memiliki momongan, itu kembali lagi pada Anda.

    3 Hal yang Perlu Anda Mantapkan Dalam Perencanaan Kehamilan yang Matang

    Lalu, hal apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum Anda merencanakan kehamildan dan menyambut kehadiran buah hati dalam hidup Anda? Berikut ini, Ledisia.com paparkan untuk Anda.

    1. Untuk yang sudah memiliki momongan sebelumnya, kapan waktu terbaik untuk memiliki momongan yang baru?

    Untuk yang sudah memiliki momongan sebelumnya, kapan waktu terbaik untuk memiliki momongan yang baru?
    Untuk yang sudah memiliki momongan sebelumnya, kapan waktu terbaik untuk memiliki momongan yang baru? via rajanego.co.id

    Pada sejumlah kasus, ada orang tua yang memilih untuk menambah momongan lagi setelah beberapa tahun setelah kehamilan pertamanya. Keputusan seperti itu dipilih karena sang ibu ingin mengenal dan mendekatkan diri dengan si anak lebih dalam. Dengan kata lain, sang ibu bisa mengenal karakter anak dan melatihnya menjadi lebih baik. Di samping itu, ada pula yang beralasan agar bisa mempersiapkan janin agar siap untuk kehamilan selanjutnya.

    Ada pula yang memilih waktu berdekatan untuk memiliki momongan lagi. Memang mengurus dua anak secara bersamaan, pada saat keduanya belum mandiri terasa sangat merepotkan. Namun, bagi ibu-ibu yang telah menjalaninya mengaku puas akan hasil dan pengorbanan mereka setelah mengasuh dua anak yang usianya berdekatan. Ketika usia sang anak sudah agak besar, konon hubungan persaudaraan akan lebih dekat dan akrab.

    Keduanya sah-sah saja kok untuk Anda pilih, selama itu sesuai dengan tujuan dan kondisi keluarga Anda. Jangan lupa, Anda juga perlu mendiskusikan dengan pasangan Anda dan kompak menjalani keputusannya bersama-sama.

    2. Apa kata peneliti?

    Apa kata peneliti?
    Apa kata peneliti? via http://ecopolitica.net/

    Melihat kecenderungan hubungan anak-anak dengan orang tua, persaingan atau kecemburuan antara si kakak dan adik, dan permasalahan lain yang mungkin muncul, Jeannie Kidwell, seorang profesor studi keluarga di University of Tennessee di Knoxville, mengatakan waktu terbaik memiliki momongan lagi adalah ketika anak Anda berada di bawah umur satu tahun atau lebih dari empat tahun.

    Alasannya, anak di bawah umur satu tahun tidak memiliki rasa eksklusif dan cenderung kurang membenci pendatang baru. Begitu momongan baru Anda nanti lahir, mereka akan memandangnya sebagai sahabat atau kawan sebaya.

    Sedangkan mereka yang usianya lebih dari empat tahun, memiliki waktu cukup untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari ayah dan ibunya. Ditambah lagi, mereka sudah mengenal pergaulan dengan kawan-kawan di lingkungan masyarakat. Maka, sebagian waktu orang tua bisa dicurahkan untuk kehadiran si adik.

    Namun jika berbicara tentang kesehatan bayi, menunggu dua atau tiga tahun sebelum Anda hamil lagi tidak tabu dilakukan. Penelitian menemukan bahwa dalam satu tahun setelah kelahiran sebelumnya dapat beresiko pada kesehatan sang bayi. Misalnya kelahiran terlalu dini atau prematur, berat badan bayi yang kurang, atau berukuran lebih kecil daripada seharusnya tubuhnya dalam janin.

    3. Untuk Anda yang baru pertama kali merencanakan kehamilan, hal apa yang harus dipikirkan sebelum memberi keputusan final tentang kehamilan?

    3.1 Bagaimana anak akan mengubah hidup Anda?

    Bagaimana anak akan mengubah hidup Anda?
    Bagaimana anak akan mengubah hidup Anda? via onedio.com

    Apakah Anda dan pasangan sama-sama bekerja? Apakah ketika Anda nanti memiliki momongan nanti, hal ini akan mengganggu Anda? Atau apakah Anda dan pasangan adalah tipe-tipe pasangan yang masih ingin hidup bebas dan menjelajah ke mana saja? Jika Anda dan pasangan sama-sama bekerja, siapkah nanti untuk saling menjaga anak Anda bergantian?

    Ya, begitulah kiranya pertanyaan-pertanyaan yang dapat menjabarkan bagaimana anak dapat mengubah hidup Anda.Bayi yang baru lahir tentunya akan sedikit banyak menyita waktu Anda dan membuat salah satu dari Anda atau pasangan mengorbankan waktu. Pertimbangkan apakah Anda atau pasangan memiliki waktu dan energi untuk mengurus apa saja yang bayi butuhkan.

    3.2 Bagaimana kondisi keuangan Anda?

    Bagaimana kondisi keuangan Anda?
    Bagaimana kondisi keuangan Anda? via momjuction.com

    Saat merencanakan kehadiran anak, sudah pasti pertimbangan finansial merupakan salah satu hal yang Anda nomor satukan. Apalagi saat Anda sedang merencanakan kehamilan, maka Anda juga sedang melakukan perencanaan atas keluarga Anda kelak. Menurut situs babycenter.com, setiap anak paling tidak membutuhkan sekitar $ 10.000 per tahun untuk makan, pakaian, rumah, dan tetap sehat.

    Maka jika memiliki momongan adalah ide yang sudah menjadi kesepakatan mantap antara Anda dan istri Anda, lebih jeli dalam mengatur anggaran bulanan menjadi wajib hukumnya. Pun, pertimbangkan untuk tidak menghambur-hamburkan keuangan Anda untuk keperluan yang tidak perlu. Sebaliknya, prioritaskan demi kelahiran bayi dan masa depannya nanti.

    3.3 Berapa umur Anda?

    Berapa umur anda?
    Berapa umur anda? via vmichurinske.ru

    Bagi wanita, umur nampaknya masih menjadi masalah utama. Apalagi jika dikaitkan dengan reproduksi atau kehamilan. Untuk wanita berusia di bawah 30 tahun dan tidak memiliki masalah kesehatan yang membuat kehamilan sulit, bersyukurlah! Anda tak perlu pikir panjang lagi untuk merencanakan kehamilan. Sebab jika usia Anda sudah memasuki usia 30 tahun lebih, ada kemungkinan penurunan fungsi hormon reproduksi Anda. Kesempatan untuk hamil bahkan menjadi tidak sebesar kesempatan sewaktu masih berusia di bawah 30 tahun.

    3.4 Apakah Anda dan pasangan setuju?

    Apakah Anda dan pasangan setuju?
    Apakah Anda dan pasangan setuju? via www.getjoys.net

    Terkadang ada kasus di mana salah satu pasangan siap memiliki momongan, sedangkan yang lainnya tidak. Jika kasusnya sudah seperti ini, memang agak sulit untuk segera mewujudkan keinginan untuk memiliki anak. Namun, bukankah Anda dan pasangan bisa berdiskusi dengan baik dan dari hati ke hati untuk memcahkannya perbedaan kesiapan tersebut beserta alasannya?

    3.5 Apa yang hati Anda katakan?

    Apa yang hati Anda katakan?
    Apa yang hati Anda katakan? via patrika.com

    Setelah melalu berbagai macam proses, diskusi dengan pasangan, serta konsultasi dengan orang tua, kawan, bahkan dokter kandungan Anda lakukan, lantas Anda mantap untuk segera merencanakan kehamilan dan memiliki momongan. Namun, pastikan keinginan tersebut juga didasari dari hati. Pastikan hati Anda turut mantap merencanakan momongan demi kelancaran dan lahirnya bayi yang sehat.

    Jangan tutupi perasaan-perasaan atau pikiran-pikiran negatif Anda sehingga nantinya Anda akan melalui proses program hamil yang menyenangkan. Jika hati Anda pun senang, maka tubuh Anda pun akan merespon dengan positif. Misalnya, pada kesehatan Anda yang prima saat hamil nanti.

    Lalu, sudah mantapkah Anda untuk segera menggendong momongan? Pastikan Anda selalu merasa senang, ya Ledis! Tetap semangat dan semoga kehamilannya lancar!