Tag: kesehatan mata

  • Paula Verhoeven Ungkap Kepentingan Pemeriksaan Mata pada Grand Opening VIO Optical Clinic Sunter

    Paula Verhoeven Ungkap Kepentingan Pemeriksaan Mata pada Grand Opening VIO Optical Clinic Sunter

    Ledisia.com – JAKARTA – Kesibukan sebagai orang supermodel, aktris, serta ibu dari dua orang putra, tiada menghentikan Paula Verhoeven untuk setiap saat sadar akan kesehatan, salah satunya adalah kemampuan fisik mata. Mungkin terdengar sepele, namun akhirnya Paula menyadari pentingnya pemeriksaan mata sejak dini.

    Hal inilah yang dimaksud membuatnya hadir dalam Grand Opening VIO Optical Clinic cabang ke-12 yang digunakan berlokasi pada Ruko Greenlake Sunter Lt.3, Jl. Danau Sunter Selatan No.15 Blok I & J, RT.15/RW.16, Sunter Agung, Kec. Tj. Priok, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Ibukota Indonesia 14350.

    “Sejujurnya, ini pertama kalinya saya menyadari bahwa pemeriksaan mata itu seharusnya diadakan rutin, bahkan sejak usia dini. Kalau sekadar saya tahu lebih besar awal, mungkin saja penglihatan saya lebih besar terjaga sejak dulu,” ujar Paula dalam sela-sela acara grand opening.

    Acara ini tidaklah semata-mata menjadi perayaan pengaktifan cabang baru, tetapi juga peluang untuk mengedukasi publik sekitar tentang pentingnya kondisi tubuh mata. Unit baru VIO Optical Clinic di tempat Sunter, DKI Jakarta Utara ini dirancang dengan konsep modern lalu menyediakan layanan kemampuan fisik mata yang mana menyeluruh untuk semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

    Paula Verhoeven tidaklah hanya saja hadir sebagai tamu spesial, tetapi juga berbagi kisah pribadinya. Sebagai orang figur rakyat yang digunakan rutin terpapar kamera juga lampu terang, Paula mengungkapkan bagaimana penglihatannya sangat penting untuk menunjang pekerjaannya. Namun, ia juga mengakui bahwa ia banyak mengabaikan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin.

    “Banyak orang, termasuk saya, berpikir pemeriksaan mata itu semata-mata dijalankan kalau ada keluhan seperti penglihatan kabur. Padahal, pemeriksaan rutin bisa saja membantu mendeteksi permasalahan yang dimaksud tak terlihat, bahkan sebelum gejala muncul,” tambahnya.

    Paula juga berpesan untuk para tamu juga orang tua yang dimaksud hadir untuk memprioritaskan kemampuan fisik mata anak-anak mereka. “Anak-anak adalah aset masa depan kita. Melindungi penglihatan merek berarti memberi merekan potensi terbaik untuk mengawasi dunia dengan jelas juga belajar tanpa hambatan,” jelasnya.

    Selain itu, grand opening VIO pada Sunter ini dihadiri oleh beberapa komunitas momfluencer yang tersebut anak-anaknya mengalami kesulitan mata minus serta silinder. VIO Optical Clinic cabang ke-12 pada Sunter DKI Jakarta Utara saat ini menyediakan solusi untuk gangguan penglihatan anak pasca pandemi, seperti Myopia Control Management, yang dimaksud membantu orang tua pada mengurus perkembangan mata minus juga silinder pada anak.

    Selain Myopia Control Management, layanan vision therapy di tempat VIO Optical Clinic Sunter ini juga menyediakan pemeriksaan mata lengkap juga pendeteksian dini penyakit mata, terapi mata malas, terapi mata juling, pemeriksaan buta warna, kemudian masih berbagai lagi. Tak belaka itu, kacamata juga lensa kontak yang digunakan tersedia di tempat VIO Optical Clinic Sunter ini miliki fungsi khusus sebagai terapi yang digunakan mampu mengoreksi juga memperbaiki penglihatan mata pasien menjadi lebih lanjut baik dari sebelumnya.

  • Mengerikan! Dokter Temukan 27 Lensa Kontak di tempat Mata Wanita Hal ini

    Mengerikan! Dokter Temukan 27 Lensa Kontak di tempat Mata Wanita Hal ini

    Ledisia.com – JAKARTA – Operasi katarak rutin berubah menjadi misteri ketika dokter menemukan 27 lensa kontak terperangkap di area bawah kelopak mata pribadi wanita. Kondisi ini dialami oleh individu wanita Inggris berusia 67 tahun.

    Dilansir dari Times of India, Kamis (26/12/2024), wanita yang dimaksud dilaporkan telah terjadi memakai lensa sekali pakai bulanan selama 35 tahun tanpa pemeriksaan mata rutin. Ia mengalami ketidaknyamanan mata ringan tetapi bukan miliki permasalahan besar dengan penglihatannya.

    Kondisi ini sangat aneh akibat gagal melegakan lensa kontak dari mata dapat menyebabkan infeksi serius. Namun, pada tindakan hukum tersebut, pasien tak melaporkan kesulitan besar apa pun dengan penglihatannya atau iritasi mata berlebihan.

    Jika tidak oleh sebab itu operasi katarak rutin pada mata kanannya, 27 lensa kontak itu akan tetap memperlihatkan tak terdeteksi, yang berpotensi menyebabkan permasalahan pada mata pasien di tempat beberapa titik waktu.

    Selain penglihatan yang dimaksud tambahan buruk di tempat mata kanan dibandingkan dengan mata kiri, pasien yang dimaksud tidaklah memiliki keluhan mata sebelumnya. Hanya saja, wanita yang disebutkan mengalami rasa tiada nyaman pada matanya sebelum prosedur, dan juga berasumsi bahwa hal itu disebabkan oleh mata kering dan juga usia tua.

    Namun, tepat ketika dokter memberikan anestesi ke mata wanita tersebut, mereka meninjau massa besar berwarna kebiruan di area bawah kelopak mata atasnya, yang digunakan setelahnya diperiksa ternyata merupakan gumpalan 17 lensa kontak sekali pakai yang tersebut diikat oleh lendir.

    10 lensa lainnya ditemukan ketika mata yang dimaksud diperiksa dengan saksama dalam bawah mikroskop. Setelah semua lensa kontak dilepas, operasi katarak ditunda selama dua minggu akibat peluang penumpukan bakteri dalam matanya yang tersebut dapat menyebabkan infeksi.

    Meskipun tak jelas bagaimana begitu banyak lensa kontak berakhir dalam bawah kelopak mata pasien, wanita itu dilaporkan terkadang tiada dapat menemukan lensa di area mata kanannya ketika mencoba melepaskannya serta berasumsi bahwa sudah pernah menjatuhkannya di area suatu tempat.

    Sementara itu, lensa kontak yang dimaksud digunakan wanita ini dapat dipakai selama sekitar 30 hari, tetapi harus dilepaskan sebelum tidur setiap malam. Dokter wanita tersebut, yang menerbitkan laporan persoalan hukum ini di area jurnal The BMJ, menduga bahwa mata cekungnya membuatnya lebih lanjut rentan untuk menahan begitu berbagai lensa.

    Dokter juga menyoroti pentingnya memantau pengguna lensa kontak untuk melakukan konfirmasi dia menggunakan lensa dengan benar. Penulis menyarankan agar dokter dapat membalik kelopak mata pasien lalu mengoleskan pewarna fluorescein, pewarna fluoresen yang mana berubah warna pada waktu dilihat pada bawah cahaya khusus untuk membantu mengungkap lensa kontak yang digunakan tersembunyi dalam pada juga di dalam sekitar mata.

  • Mata Bisa Deteksi Dini Diabetes hingga Kanker, Perhatikan Tanda-tandanya

    Mata Bisa Deteksi Dini Diabetes hingga Kanker, Perhatikan Tanda-tandanya

    Ledisia.com – JAKARTA – Mata dapat mengungkap tanda-tanda awal diabetes, tekanan darah tinggi juga bahkan kanker. Pemeriksaan mata secara teratur dapat membantu mendeteksi risiko kemampuan fisik tersembunyi sebelum gejala muncul.

    Bayangkan tanpa peringatan mengalami penglihatan ganda tanpa cedera atau trauma sebelumnya. Apalagi, pada waktu ini mata kerap dihadapkan pada layar ponsel. Dikutip Hindustan Times, Langis Michaud, pribadi dokter mata di artikel The Conversation menjelaskan, banyak pasien menemukan kondisi kemampuan fisik yang mana mendasarinya melalui gejala yang digunakan berhubungan dengan mata.

    Sebagai pribadi profesor di dalam Sekolah Optometri Universitas Montreal, Michaud menekankan pengajaran untuk para siswa untuk mengidentifikasi bagaimana hambatan mata dapat mengindikasikan kesulitan kondisi tubuh yang tambahan luas serta untuk bekerja serupa dengan para profesional kondisi tubuh untuk memverifikasi pasien menerima perawatan yang mana tepat.

    1. Mata Mengungkap Tanda Diabetes
    Diabetes diperkirakan mempengaruhi hampir 8% dari populasi pada 2030, sehingga pemeriksaan dini sangatlah penting. Akan tetapi, diabetes mellitus rutin kali didiagnosis 6 hingga 13 tahun setelahnya penyakit ini dimulai. Pemeriksaan mata dapat membantu mendeteksi penyakit ini lebih tinggi awal, akibat lesi khas dapat muncul di area bagian belakang mata sebelum gejala lainnya berkembang.

    Pemeriksaan dini sangat penting pada waktu lima tahun setelahnya deteksi, 25% pasien dengan penyakit gula Tipe 1 kemudian 40% dari dia dengan penyakit gula Tipe 2 yang tersebut diobati dengan insulin dapat mengembangkan lesi mata yang mana mengancam penglihatan. Identifikasi yang tersebut tepat waktu kemudian pemantauan rutin dapat menurunkan risiko kebutaan yang disebabkan oleh hiperglikemia yang digunakan tak diobati.

    2. Tekanan Darah Tinggi serta Kolesterol
    Tekanan darah tinggi serta steroid tinggi rutin kali tidak ada disadari, namun keduanya mengakibatkan risiko kritis untuk penyakit jantung serta stroke. Anehnya, mata dapat menunjukkan tanda-tanda awal kondisi ini tanpa prosedur invasif. Pembuluh darah mata terlihat, menawarkan jendela unik untuk meninjau kemampuan fisik pembuluh darah.

    Tekanan darah tinggi, yang banyak disebut “pembunuh diam-diam,” dapat menunjukkan tanda-tanda seperti penyempitan pembuluh darah atau kecacatan pada retina. Demikian pula, lemak darah tinggi dapat menyebabkan endapan lemak darah yang dimaksud terlihat dalam di pembuluh darah, yang dikenal sebagai plak Hollenhorst, atau muncul sebagai lengkungan lipid pada kornea dan juga bercak kekuningan (xanthelasma) di dalam sekitar mata. Karena gejalanya mungkin saja tiada kentara atau tumbuh secara bertahap, sejumlah pasien yang dimaksud salah mengiranya sebagai pembaharuan normal. Pemeriksaan mata rutin dapat membantu mendeteksi hambatan ini sejak dini, sehingga menggalakkan intervensi tepat waktu.

    3. Glaukoma
    Glaukoma, penyakit saraf optik yang tersebut tiada terlihat, rutin kali tumbuh tanpa gejala. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh tekanan mata yang tinggi akibat kelebihan humor akuos atau permasalahan drainase, yang mana menyebabkan hilangnya serabut saraf secara bertahap kemudian penyempitan bidang visual. Pada pada waktu kehilangan penglihatan mulai terlihat, kehancuran saraf yang tersebut signifikan kemungkinan besar telah dilakukan terjadi, yang dimaksud seringkali tidaklah dapat diperbaiki. Glaukoma kronis dapat disebabkan oleh hambatan mata atau obat-obatan seperti kortison.

    Namun, glaukoma normotensif terjadi dengan tekanan mata normal serta dikaitkan dengan tekanan darah rendah atau kondisi seperti sleep apnea. Pasien dengan tipe iniPerlu evaluasi medis menyeluruh untuk mengetahui penyulut yang mendasarinya.

  • Mengenal Retinopati Diabetik, Penyakti Mata Akibat Diabetes

    Mengenal Retinopati Diabetik, Penyakti Mata Akibat Diabetes

    Ledisia.com – JAKARTA – Retinopati diabetik (RD) atau penyakit mata diabetik adalah salah satu bentuk komplikasi diabetes. Di mana kadar gula yang tersebut tinggi mengakibatkan kehancuran pada pembuluh darah retina mata, khususnya di tempat jaringan-jaringan yang tersebut sensitif terhadap cahaya.

    Kondisi ini dapat diderita oleh siapa pun yang digunakan mengidap hiperglikemia tipe 1 atau 2. Terutama merek yang gula darahnya tiada terkontrol dan juga telah terjadi menderita penyakit gula di jangka waktu yang mana lama.

    “Pada awalnya, RD rutin kali belaka menunjukkan gejala ringan, atau bahkan tiada mengakibatkan gejala sebanding sekali. Namun apabila tidak ada ditangani, RD dapat menyebabkan kebutaan,” kata Guru Besar juga Kepala Departemen Keilmuan Kesejahteraan Mata, Fakultas Kedokteran, Kesejahteraan Komunitas dan juga Keperawatan, Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, Sp.M(K), M.Epi, PhD pada waktu Peluncuran Peta Jalan Kesejahteraan Penglihatan 2025-2030 Hari Penglihatan Sedunia 2024 secara daring pada Kamis, 10 Oktober 2024.

    “Oleh dikarenakan itu, penderita penyakit gula selalu disarankan untuk melakukan pemeriksaan mata rutin, setidaknya satu kali pada setahun meskipun tak merasakan keluhan apa pun pada mata,” sambungnya.

    Di Indonesia, RD menjadi sebuah permasalahan kondisi tubuh rakyat yang dimaksud sangat penting. Hal ini dikarenakan berdampak bukan hanya saja pada kualitas manajemen hiperglikemia namun juga kualitas hidup, produktivitas kerja, kemudian meningkatnya beban layanan kebugaran secara keseluruhan.

    Meskipun telah dilakukan berbagai kemajuan di hal skrining, diagnosis, lalu pengobatan, 75 persen penderita hiperglikemia masih belum mendapatkan skrining yang digunakan dibutuhkan untuk gangguan penglihatan akibat diabetes. Organisasi Aspek Kesehatan Bumi (WHO) memiliki target setidaknya 80 persen penderita hiperglikemia di dalam semua negara telah lama diadakan skrining mata secara teratur.

    Sementara itu, beban biaya kebugaran akibat penyakit ini diperkirakan mencapai Rp138 triliun dalam 2025 apabila tak diupayakan perbaikan penanganan. Pembentukan peta jalan Bidang Kesehatan Penglihatan 2025-2030 dari Kementerian Kesejahteraan menjadi panduan terbaru bagi penanganan kesulitan kondisi tubuh mata dalam Indonesia, termasuk retinopati diabetik.

    “Di di Peta Jalan Upaya Kesejahteraan Penglihatan Indonesia 2025 – 2030, ditargetkan pada tahun 2030 tiada semata-mata 80 persen penderita penyakit gula terskrining. Namun juga setidaknya 60 persen individu diabetes mellitus dengan gangguan mata telah terjadi mendapatkan tatalaksana yang sesuai,” jelasnya.