Tag: gangguan tidur

  • Hidung Mampet ketika Tidur? Jangan Sepelekan, Hal ini Tips dari Instan Plong Bisa Pulas

    Hidung Mampet ketika Tidur? Jangan Sepelekan, Hal ini Tips dari Instan Plong Bisa Pulas

    Ledisia.com – JAKARTA – Hidung tersumbat kerap kali dianggap sepele. Namun sesuatu yang digunakan sepele itu dampaknya sanggup mengacaukan banyak hal. Tidur jadi gelisah, bangun pagi terasa lesu, kemudian kerja jadi nggak fokus adalah efek dari hidung tersumbat.

    Baru-baru ini, Instan Plong banyak diperbincangkan pada media sosial dikarenakan klaimnya yang tersebut mampu membantu mengatasi hidung mampet tanpa obat dan juga tanpa efek samping. ”Berbeda dari obat semprot atau inhaler yang dimaksud hanya saja bekerja sementara, Instan Plong tidak obat, melainkan nasal strip,” kata Customer Insights & Product Specialist Instan Plong, Septian Arfianto pada siaran pers, Rabu (19/2/2025).

    Produk ini mirip seperti plester Hansaplast, tetapi dirancang khusus untuk membuka jalur napas secara alami. Instan Plong menggunakan teknologi Open-Flow dengan perekat hypoallergenic juga flex spring band yang digunakan perlahan mengangkat sisi hidung. ”Jalur napas yang sempit terbuka lebih besar lebar, sehingga udara mengalir lancar kemudian tidur jadi lebih besar nyenyak,” lanjutnya.

    Di Instagram serta Facebook, banyak pengguna membagikan pengalaman mereka. ”Mulai dari tiap waktu malam kebangun dikarenakan hidung mampet, sekarang bisa jadi tidur pulas. Bangun pagi tambahan segar, nggak lemas lagi. Kerja jadi lebih besar fokus sebab tidur nyenyak. Beberapa pengalaman itu dibagikan netizen,” jelasnya.

    Septian menambahkan, beberapa atlet lalu pekerja kantoran juga mengaku lebih lanjut bertenaga setelahnya menggunakannya, dikarenakan asupan oksigen lebih banyak optimal. Meski begitu, Septian mengingatkan, Instan Plong bukanlah pengganti perawatan medis bagi mereka yang tersebut memiliki gangguan pernapasan serius.

  • Berapa Lama Waktu Tidur Terbaik? Lebih dari 8 Jam Dikaitkan dengan Risiko Kematian

    Berapa Lama Waktu Tidur Terbaik? Lebih dari 8 Jam Dikaitkan dengan Risiko Kematian

    Ledisia.com – JAKARTA – Studi yang dijalankan regu peneliti dari Negeri Matahari Terbit menyampaikan peringatan bahwa tidur lebih besar lama dapat mengubah hormon yang berperan di kemampuan fisik ginjal atau dapat mencerminkan permasalahan kondisi tubuh yang mana mendasarinya atau akses ke perawatan medis.

    Penyakit ginjal kronis adalah kondisi jangka panjang yang mana terjadi ketika ginjal tak lagi mampu menyaring limbah dari darah dengan baik. Menurut Pusat Pengendalian lalu Pencegahan Penyakit Negeri Paman Sam (CDC), sekira 35,5 jt orang dewasa Negeri Paman Sam diyakini miliki kondisi tersebut, meskipun 9 dari 10 dari orang tidaklah menyadarinya.

    “Studi ini menyoroti pentingnya memahami bagaimana terlalu sejumlah serta terlalu sedikit tidur dapat memengaruhi kemampuan fisik ginjal,” kata peneliti kondisi tubuh rakyat Shuai Guo dari Universitas Tsukuba di sebuah pernyataan, diambil Newsweek.

    “Temuan kami menunjukkan bahwa durasi tidur yang mana lebih banyak lama kemungkinan besar merupakan sinyal permasalahan kebugaran yang digunakan mendasarinya yang tersebut berkontribusi terhadap kematian akibat penyakit ginjal kronis, khususnya pada individu yang mana tambahan muda,” tuturnya lagi.

    Dalam studi , Guo juga rekan-rekannya melibatkan lebih lanjut dari 95.000 orang dewasa Jepang, masing-masing berusia antara 40 dan juga 79 tahun kemudian menganalisis dia selama sekira 19 tahun.

    Masing-masing kontestan melaporkan berapa lama merekan tidur setiap malam, yang digunakan menjadi dasar para peneliti mengelompokkan mereka berdasarkan durasi: kurang dari enam jam, enam hingga tujuh jam, tujuh hingga delapan jam, delapan hingga sembilan jam, lalu lebih besar dari sembilan jam.

    Sebagai referensi, CDC merekomendasikan agar orang dewasa tidur setidaknya tujuh jam setiap malam—dan tiada tambahan dari sembilan jam bagi dia yang mana berusia 61 hingga 64 tahun juga maksimal delapan jam bagi merek yang berusia 65 tahun ke atas.

    Para peneliti menentukan bahwa tidur antara delapan juga sembilan jam per waktu malam dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit ginjal kronis sebesar 41 persen dibandingkan dengan subjek yang mana tidur semata-mata tujuh hingga delapan jam.

    Peningkatan yang dimaksud lebih besar nyata bagi mereka yang digunakan tidur sembilan jam atau lebih banyak setiap malam—meningkat hingga 82 persen. Tim yang disebutkan juga mencatatkan bahwa risiko yang dimaksud terlihat lebih banyak nyata pada subjek yang digunakan berusia di area bawah 65 tahun.

  • Jangan Berlebihan, Konsumsi Kafein Bikin Susah Tidur!

    Jangan Berlebihan, Konsumsi Kafein Bikin Susah Tidur!

    Ledisia.com – JAKARTA – Sebuah studi baru menunjukkan bahwa konsumsi kafein di dosis tertentu dapat mengganggu tidur seseorang, bahkan jikalau Anda telah dilakukan mengonsumsi kafein yang dimaksud 12 jam sebelum tidur. Bagi merekan yang dimaksud susah tidur, baiknya menghindari kafein.

    Dikutip People, studi yang diterbitkan di Sleep pada Oktober lalu, meneliti efek “dosis biasa” kemudian “dosis tinggi” kafein yang dikonsumsi pada waktu yang tersebut berbeda pada sehari (“pagi, siang, lalu malam”), dan juga menemukan bahwa dosis yang mana lebih banyak tinggi memang sebenarnya dapat memengaruhi tidur, selama beberapa jam sebelum tidur.

    Studi yang dimaksud melibatkan 23 pria dengan “kebiasaan mengonsumsi kafein sedang” dalam bawah 300 mg dengan usia 18 lalu 40 tahun. Hasilnya, walaupun dosis kafein 100 mg dapat dikonsumsi hingga empat jam sebelum tidur, dosis 400 mg “dapat berdampak negatif pada tidur” apabila dikonsumsi di waktu 12 jam sebelum tidur — dengan pengaruh buruk pada tidur meningkat apabila konsumsi dijalankan mendekati waktu tidur.

    Perbedaan antara kualitas tidur objektif dan juga subjektif ini, menurut para peneliti, menunjukkan bahwa peminum kafein kemungkinan besar mengalami kesulitan untuk secara akurat memahami pengaruh kafein pada kualitas tidur.

    “Kami tertarik dengan topik ini oleh sebab itu bukti yang tersebut ada terbatas untuk memandu rekomendasi yang mana jelas tentang dosis kemudian waktu konsumsi kafein yang dimaksud berkaitan dengan tidur,” kata penulis studi Carissa Gardiner, peneliti pascadoktoral di tempat Pusat Penelitian SPRINT di tempat Universitas Katolik Australia, menurut PsyPost.

    “Dengan sekitar 80% populasi mengonsumsi kafein, kafein dapat berkontribusi pada tingginya bilangan bulat kurang tidur yang dilaporkan pada waktu ini. Memahami bagaimana dosis kafein lalu waktu asupan memengaruhi tidur dapat membantu mengembangkan pedoman praktis untuk meminimalkan dampak negatif pada tidur,” ujar ia lagi.

    Penelitian itu sendiri melibatkan para pria yang digunakan berpartisipasi di tujuh kondisi, termasuk “plasebo” lalu 100 mg lalu 400 mg kafein yang dimaksud dikonsumsi 12, 8, serta 4 jam sebelum tidur. Setiap kondisi menampilkan “pencucian selama 48 jam,” oleh sebab itu tidur dinilai dengan “polisomnografi parsial di tempat rumah” — atau perangkat pemantau tidur — serta “buku harian tidur.”

    Semua pengujian dijalankan di dalam rumah partisipan selama periode 21 hari; wanita dikeluarkan dari penelitian “karena jangka waktu yang diperlukan untuk memperhitungkan profil hormonal yang tersebut berbeda.” Kafein diberikan di bentuk kapsul, lalu sampel air liur dikumpulkan selama penelitian.

    Menurut penelitian, tiada ada efek signifikan yang diamati untuk konsumsi dosis kafein 100 mg dalam setiap titik waktu. Dosis 400 mg mempunyai efek yang dimaksud bervariasi, dan juga akan “menunda secara signifikan permulaan tidur dan juga mengubah arsitektur tidur” apabila dikonsumsi di waktu 12 jam sebelum tidur.